Jumat, 09 Januari 2015

HAMPIR MATI TENGGELAM

         Sebelum bertugas sebagai bidan di desa,saya sebenarnya telah bertunangan.Namun takdir berkata lain,akhirnya saya menikah dengan teman sekerja saya yg bertugas di Puskemas Induk.Setelah menikah,tidak mungkin lagi saya tinggal di rumah orang tua angkat saya.Maka kamipun sepakat untuk tinggal di Polindes saja.
         Yang jadi masalah,dipolindes ini tidak ada sumur,WC pun setelah beberapa bulan ,diketahui hanya ada Closednya sj,tidak ada septic tank nya…wah..wah…dikarenakan setelah BAB dan disiram itu fases nggak bisa terdorong keluar.Selidik-selidik ternyata nggak ada septik tanknya.Akhirnya suami saya meminjam cangkul dan linggis,kemudian berusaha membuat lobang sederhana ukuran setengah meter persegi kemudian mengalirkan tinja yg sempat mampet…tau sendiri harumnya…wkkwkwwk
          Dikarenakan tidak ada sumur ,maka kamipun mengikuti kebiasaan warga setempat untuk mandi dan cuci di sungai.Sementara air untuk minum saya minta dengan tetangga yg punya sumur .Didesa ini warga yg memiliki sumur bisa dihitung dengan jari.Disekitar Polindes kedalaman sumur rata2 diatas 11 meter,itupun pasti kering disaat memasuki musim kemarau.

Tempat dimana aku hampir mati tenggelam

                          Sungai dan jalanan curam yang setiap hari menjadi tujuan untuk mandi dan mencuci

        Saya pada dasarnya tidak bisa berenang,tetapi suami saya cukup mahir.Tepian tempat kami mandi dan cuci merupakan areal batu karang.Cukup luas dan ramai dipagi dan sore hari.Saat saya dan suami ke Tepian ini situasinya lagi sepi,hanya ada kami berdua.Setelah mencuci pakaian saya pun mandi.Memang disebelah tepian mandi ini ada lubuk yg luasnya mungkin 3 x 4 meter dengan kedalam mencapai 3 meter,soalnya suami saya pernah mencoba mengukurnya.

         Saat saya mandi saya terpeleset karena dorongan arus air dan akhirnya tenggelam di lubuk ini.Saat saya tenggelam dilubuk ini pandangan suami saya terpusat kearah lain.Dia baru melihat kearah saya, disaat tinggal bayangan rambut saya yg ada di permukaan air.Segera suami saya terjun ke dalam Lubuk ini.Saat terjun pertama kali, suami tidak mendapatkan tubuh saya.Sayapun didalam air berusaha menggapai apapun yg bisa saya gapai,serta mencoba menjejakan kaki di dasar sungai.Tetapi tidak ada yg bisa saya gapai dan dasar sungai pun tidak tersentuh.Tubuh sayapun sudah lemas dan airpun mulai terminum.
           Kemudian suami saya terjun kembali untuk yg kedua kalinya serta didalam keputusasaan saya,tiba2 kaki saya menyentuh dasar lubuk,segera saja saya hentakkan kaki saya untuk mencoba naik dari dasar sungai dan tiba tiba tangan saya menyentuh kaki suami saya,dan segera kaki suami saya saya pegang erat2
          .Suami saya teringat bahwa menolong orang yg nggak bisa berenang harus hati hati sebab bisa menyebabkan sipenolong pun ikut tenggelam.Suami saya berusaha sekuat tenaga agar tidak ikut tenggelam,dan akhirnya saya bisa dibawa kembali ketepian sunagi.Kain basahan saya telah berubah posisinya,bagian atas tubuh saya tidak tertutup lagi oleh kain basahan,untung tidak orang yg melihat.
            Suami saya kelihatan duduk lemas dan pucat ditepian sungai dengan pandangan kosong.Beberepa menit kami terduduk lesu ditepian sungai.Setelah membereskan semua cucian ,kamipun pulang ke Polindes.Sesampainya di Polindes suami sempat berkata…Gimana jadinya ya jika ada berita di Koran “ Seorang Bidan Desa Mati Tenggelam Di Sungai “ …kwkwkwk

Kata Kata Bijak :
  " Di dalam tertawapun hati dapat merana, dan kesukaan dapat berakhir dengan kedukaan." AMSAL 14:13

Tidak ada komentar:

Posting Komentar